Tentang kami

Tentang TRAMVIOR — Aplikasi Belajar SMK Solo Raya

TRAMVIOR dimulai dari wawancara terhadap 12 narasumber di wilayah Solo Raya — bukan dari ruang rapat, tapi dari kamar belajar siswa SMK yang kebingungan malam hari tanpa ada yang bisa ditanya.

Bagaimana TRAMVIOR bermula

Wawancara terhadap 12 narasumber di Solo Raya menemukan hasil yang beragam, dari masalah keuangan pribadi, pengelolaan pesanan UMKM, hingga manajemen jadwal harian. Namun satu persoalan muncul berulang kali dan terasa paling mendesak: siswa SMK tidak punya tempat belajar digital yang nyambung dengan jurusan mereka.

Tiga narasumber paling vokal soal ini adalah Zahraa dari SMK Negeri 3 Klaten jurusan kuliner, Ilham dari SMK Bina Patria 2 Sukoharjo jurusan otomotif, dan Kirana dari SMK PGRI Pedan jurusan akuntansi. Ketiganya tinggal di kabupaten berbeda, tapi keluhannya nyaris sama: materi di internet terlalu umum, tidak sesuai kurikulum SMK, dan cara penyajiannya membosankan.

Satu narasumber lain, Indar, peserta kursus bahasa Jepang dari Solo Raya, secara khusus membutuhkan simulasi wawancara kerja dan latihan percakapan profesional untuk persiapan bekerja ke luar negeri. Dari kumpulan keresahan inilah ide membuat TRAMVIOR pertama kali muncul.

"Materi di internet terlalu umum, tidak sesuai kurikulum SMK, dan cara penyajiannya membosankan." — rangkuman keluhan Zahraa, Ilham, dan Kirana

Arti di balik nama TRAMVIOR

Nama TRAMVIOR lahir dari gabungan kata "TRAMPIL" dan konsep "future behavior". Kata "Tram" merepresentasikan kemampuan, kompetensi, dan proses belajar yang berkelanjutan, sementara akhiran "vior" dari kata behavior melambangkan perubahan perilaku positif dan adaptasi terhadap era digital yang terus berkembang.

Misinya sederhana: membantu siswa SMK Solo Raya berkembang menjadi pribadi yang lebih terampil, adaptif, dan siap menghadapi tantangan dunia kerja nyata.

Bukan aplikasi AI, tapi sistem belajar terstruktur

Banyak yang bertanya, kenapa harus pakai TRAMVIOR kalau ChatGPT juga bisa menjawab pertanyaan? Jawabannya sederhana namun fundamental.

ChatGPT adalah perpustakaan raksasa yang menjawab pertanyaan siapa pun secara umum tanpa mengenal penggunanya. TRAMVIOR adalah guru privat digital yang sudah tahu jurusan siswa, kelas berapa, materi apa yang sedang dipelajari, di bagian mana siswa sering salah, dan seberapa jauh perkembangan belajarnya hari ini — lengkap dengan latihan soal sesuai kurikulum SMK, simulasi wawancara kerja, kuota internet dari hasil belajar, dan portofolio kompetensi yang bisa langsung dipakai melamar kerja.

Nilai unik yang kami bawa

  • Dirancang khusus untuk SMK, bukan diadaptasi dari platform akademik umum.
  • Konten per jurusan — akuntansi, otomotif, perhotelan, tata boga — bukan materi campuran.
  • Dunia Kerja Simulator untuk latihan wawancara dan percakapan profesional jauh sebelum PKL.
  • Belajar hasilkan kuota lewat Gamifikasi Belanja Kuota, satu-satunya di industri edukasi digital Indonesia.
  • Offline-first, 80% aktivitas belajar berjalan tanpa internet.
  • AI Tutor berbahasa Jawa, tidak ada hambatan bahasa sehari-hari.
  • Skill Passport Digital sebagai portofolio kompetensi yang siap dilampirkan saat melamar kerja.

"TRAMPIL-in Masa Depanmu!"

Siapa yang kami layani

Target utama TRAMVIOR adalah siswa aktif SMK kelas X hingga XII berusia 15–18 tahun yang tersebar di tujuh wilayah Solo Raya: Kota Surakarta, Kabupaten Sukoharjo, Klaten, Boyolali, Karanganyar, Wonogiri, dan Sragen. Mayoritas berasal dari keluarga berpendapatan menengah ke bawah, dengan orang tua bekerja sebagai buruh pabrik, petani, atau pedagang pasar tradisional — profil yang sangat umum ditemukan di kawasan pinggiran Solo Raya seperti Pedan, Juwiring, dan Wedi.

Mereka adalah generasi yang tumbuh dengan ponsel sebagai perangkat utama, terbiasa dengan konten visual pendek, dan sangat berorientasi pada hasil nyata serta reward instan. Banyak dari mereka menyimpan aspirasi besar untuk bekerja di perusahaan bonafide atau bahkan ke luar negeri, namun sering merasa tidak punya akses dan panduan yang tepat untuk mewujudkannya.

Fokus awal penetrasi dimulai dari tiga titik hasil wawancara: Klaten, Sukoharjo, dan Pedan — sebelum ekspansi dilanjutkan ke kabupaten lain dalam Solo Raya, lalu merambah ke wilayah Jawa Tengah yang lebih luas.